Widget HTML Atas

TOTAL POSITIF
ORANG
Positif
TOTAL SEMBUH
ORANG
Sembuh
TOTAL MENINGGAL
ORANG
Meninggal
INDONESIA

POSITIF , SEMBUH , MENINGGAL

Indonesia
Sumber data : Kementerian Kesehatan & JHU. Update COVID-19 terakhir :

Pentingnya Belajar Menjadi Pribadi Yang Tak Mudah Terprovokasi


Kalau kita baca pengertian Provokasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], Provokasi dijelaskan sebagai berikut:
provokasi/pro·vo·ka·si/ perbuatan untuk membangkitkan kemarahan, tindakan menghasut, penghasutan, pancingan. sebaiknya mereka menyadari bahwa yang ditimbulkannya itu akan mengundang pertumpahan darah.
terprovokasi/terpancing atau terpengaruh untuk melakukan perbuatan negatif, misalnya perusakan: pengunjuk rasa sempat, Jadi sudah tahu kan bahwa provokasi itu lebih digunakan untuk pemaknaan yang bersifat negatif.

Jadi saat saya sebut kata provokasi-provokator-terprovokasi, maka itu artinya pernyataan tersebut hanya untuk saya tujukan kepada perbuatan yang negatif.

Saat ini banyak sekali dan begitu mudah menemukan seruan, ajakan, atau sekedar pernyataan yang baik terang-terangan maupun samar yang mengandung unsur provokasi.

Silahkan saja anda buka akun sosial media anda seperti facebook, twitter dan lainya, maka anda akan dengan sangat mudah menemukannya.

Nah, jika anda sudah mengetahui dan menyadarinya, maka ada baiknya anda harus tahu dan faham, seperti apa dan bagaimana bahasa provokasi itu diciptakan.

Di era sosial media yang begitu meluas saat ini, maka menurut saya pribadi, pengetahuan akan pentingnya pengaruh provokasi harus diajarkan dan disebarkan pula.

Kenapa? Karena yang namanya provokator itu akan selalu pasti menyebarkan provokasi secara terus-terusan, sampai tujuan atas provokasi tersebut tercapai.

Saat kita sudah menyadari akan hal itu, maka diantara kita yang tidak ingin para provokator itu menjadi “pemenang” di sosial media dan dunia maya, maka kita juga harus melawan dengan cara yang sama tapi beda.

Sama maksud saya disini yaitu, sama-sama terus menyebarkan edukasi di sosial media secara terus-terusan dengan cara yang kreatif dan mudah difahami oleh netizen, sehingga dengan cara itu, informasi yang disampaikan oleh pra provokator itu bisa kita imbangi, dan tujuan akhirnya kita memang harus bisa menutup celah para provokator menyerukan provokasi mereka.

Beberapa point penting untuk membedakan antara informasi yang berbau provokasi ataupun tidak, memang terkadang sulit, tapi terkadang jika kita gunakan akal berfikir dan logika kita, sebenarnya tidak terlalu sulit juga.

Dan ciri-ciri informasi yang berbau provokasi atau tidak, sebenarnya cukup kita gunakan akal fikir dan dzikir kita atas substansi dari informasi tersebut.

Dan saya tekankan lagi bahwa ciri-ciri provokasi itu pasti selalu berbau negatif, bahkan berisiko merusak dan mengancam serta merugikan orang lain.

Karena arti dari provokasi itu sendiri sebagaimana saya sampaikan diatas pasti selalu berbau negatif, Jika informasi yang anda terima kemudian bukan fakta dan kalaupun fakta itu kemudian dipoles untuk diplintir dan dijadikan kepentingan tertentu, itu juga bisa berbau provokasi.

Maka disini menjadi penting untuk kita selalu waspada dengan informasi yang kita terima, apakah itu berbau provokasi ataupun tidak.

Dalam berbagai kesempatan diskusi dengan teman saya, selalu saya tegaskan bahwa saya akan lebih memilih diam jika dihadapkan pada sesuatu informasi yang kebenaran atas informasinya belum pasti dan multitafsir.

Saya memang menghindari pemahaman-pemahaman yang samar dan lebih suka memahami yang sudah pasti-pasti saja termasuk saat bicara soal urusan agama, saya juga lebih suka untuk berbicara soal yang pasti-pasti saja.

Misalnya saat kita dianggap tidak membela agama saya karena begini begitu, maka saya lebih baik fokus berpedoman pada perintah agama saya, dimana untuk menjalankan kewajiban-kewajiban yang PASTI saja tanpa kontroversi, saya masih sulit, lantas kok disuruh memperdebatkan sesuatu yang belum pasti?

Perintah agama yang pasti-pasti maksud saya misalnya, jika agama saya memperintahkan saya untuk sholat wajib 5 waktu berjamaah di masjid [untuk pria], saya sendiri masih sulit banget masa harus ikut-ikutan urusan yang lain?

Terkadang kita selalu “sok-sokan” agamis dalam kasus tertentu dan sok teriak-teriak, padahal perilaku dan amalan serta perbuatan kita saja belum tentu sudah baik.

Dalam ranah inilah memang kadang kita sulit membedakan apakah itu provokasi atau bukan, Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa akan selalu ada perbedaan pendapat itu soal pasti namun menjadi pribadi yang bisa mentaati perintah Agama kita sesuai kitab suci, itu yang tidak semua orang bisa.

Tetap berhati-hati dalam menerima informasi di sosial media, jangan mudah terhasut dan mudah terprovokasi. Karena yang namanya provokator itu terkadang membungkus informasi dengan cara yang sangat halus.

Provokasi bisa kita lawan dengan cara dimulai dari kita untuk tidak ikut menyebarkan tulisan-tulisan berbau provokasi di sosial media.

Karena perlu anda tahu, banyak media abal-abal memang yang pekerjaanya “memlintir” berita-berita berbau provokasi, tujuanya supaya traffcit blog/web/media mereka banyak trafict dan ujung-ujungnya banyak iklan dan dollar yang mereka dapat dari kebodohan kita.

Alifah lisuani
Alifah lisuani Berbagi adalah caraku untuk menambah wawasan

Tidak ada komentar untuk "Pentingnya Belajar Menjadi Pribadi Yang Tak Mudah Terprovokasi"

Berlangganan via Email